Rabu, 04 Desember 2013

LIPID



Percobaan I : Kelarutan Lemak dan Terjadinya Emulsi


Lipid mempunyai sifat nonpolar sehingga lipid larut dalam larutan-larutan yang bersifat non polar seperti eter, kloroform, benzena, karbontetraklorida, xylena, alkhol, dan aseton.
A.      Fungsi Reagen :
1.       Kloroform dan eter
Merupakan bahan yang bersifat nonpolar, sehingga dapat melarutkan minyak kelapa yang juga bersifat nonpolar.
2.       Air
Berfungsi sebagai pelarut yang bersifat polar.Karena sifatnya yang polar, air tidak dapat melarutkan lipid yang bersifat nonpolar.
3.       Larutan Na2CO3 1 %
Na2CO3 merupakan larutan yang bersifat alkali. Alkali berfungsi untuk menghidrolisis minyak kelapa (lipid) menjadi gliserol dan sabun (garam alkali dari asam lemak). Reaksii ini disebut reaksi penyabunan.
4.       Larutan empedu encer
Empedu terdiri atas tiga komponen : kolesterol, garam empedu dan lesitin. Ketiga senyawa ini merupakan senyawa amfipatik (lipid amfipatik/polar), yaitu senyawa yang mempunyai bagian hidrofobik yang berinteraksi dengan lemak dan bagian hidrofilik yang berinteraksi dengan air. Karena itu, senyawa tersebut sering ditemukan di pertemuan antara lemak dan air. Jika lipid polar yang berada dalam media aquous telah mencapai konsentrasi tertentu maka akan terbentuk misel. (gambar harper hal. 158).
Emulsi adalah lipid nonpolar (dalam bentuk partikel besar) yang terdapat dalam medium aquous. Bentuk emulsi ini akan distabilkan oleh lipid amfipatik seperti lesitin. Jadi di sini lesitin berfungsi sebagai emulgator.
B.      Korelasi Klinik
Lipid amfipatik sangat diperlukan unutk membantu mengabsorbsi hasil pencernaan lipid dalam usus halus. Selain itu lipid amfipatik juga merupakan struktur penting penyusun membran sel biologik.


Percobaan II : Sifat Tidak Jenuh


Asam lemak terutama ditemukan sebagai bentuk ester di dalam lemak dan minyak alami, tetai juga ditemukan dalam bentuk tidak terseterifikasi sebagai asam lemak bebas, suatu bentuk pengangkut yang ada di dalam plasma darah. Asam lemak yang terdapat di dalam lemak alami biasanya merupakan derivat rantai lurus dan mengandung atom karbon dalam jumlah genap karena senyawa tersebut di sintesis dari unit dua-karbon. Rantai tersebut bisa berupa rantai jenuh (tidak mengandung ikatan rangkap) atau rantai takjenuh (mengandung satu atau lebih ikatan rangkap).
A.      Fungsi Reagen
1.       Kloroform
        Berfungsi sebagai pelarut lemak (seperti pada percobaan I).
2.       Reagen Hubble Iod
Terdiri atas larutan iod dalam alkohol yang mengandung sedikit HgCl2. Larutan Iod berfungsi sebagai sumber iod bebas yang nantinya akan berikatan dengan ikatan rangkap pada lipid. Sedangkan HgCl2 berfungsi sebagai katalisator reaksi.
3.       Minyak kelapa, minyak wijen, minyak kacang dan lemak binatang
Merupakan lemak dengan tingkat kejenuhan yang berbeda, yang akan diuji tingkat kejenuhannya pada praktikum ini. Semakin tidak jenuh suatu lipid berarti ikatan rangkap  dalam lipid tersebut semakin banyak, semakin banyak jumlah tetes minyak yang diperlukan untuk mengikat semua Iod bebas yang ada. Sifat cair asam lemak berkurang menurut panjang rantai dan bertambah menurut derajad ketidakjenuhannya.
B.      Korelasi Klinis
Kebanyakan asam lemak tidak jenuh berperan sebagai asam lemak essensial, karena tubuh manusia tidak dapat memproduksinya.


Percobaan III : Pembentukan Akrolein


A.      Fungsi Reagen
1.       Gliserol
Merupakan hasil pemecahan lemak pada suhu tinggi. Gliserol merupakan komponen pokok pembentukan akrolein. Akrolein mempunyai bau spesifik yang merangsang.
2.       Minyak
Sebagai kontrol negatif, karena minyak tidak membentuk akrolein dengan penambahan KHSO4.
3.       Kristal KHSO4
    KHSO4 dalam sebuah reaksi dapat berfungsi :
§      Mengikat air
§      Sebagai katalisator
§      Sebagai oksidator
        
B.      Korelasi Klinis
Gliserol merupakan jenis lipid yang secara kuantitatif sangat bermakna bagi tubuh manusia. Contohnya :
¨       triasilgliserol sebagai cadangan lipid dalam jaringan adiposa.
¨       fosfoasilgliserol sebagai prekusor second messenger dan sebagai pelapis terluar dari surfaktan paru.



Percobaan IV : Grease Spot Test


Fungsi Reagen
1.       Eter
Digunakan untuk melarutkan zat zat selain lemak yang terkandung dalam zat yang akan diselidiki pada praktikum. Zat selain lemak tersebut akan menguap secara cepat bersama eter. Zat-zat tersebut perlu dihilangkan agar tidak mengganggu jalannya reaksi.
2.       Pengusapan menggunakan kertas biasa
Kertas terbuat dari serat selulosa membentuk pori-pori yang sangat kecil sehingga cukup sukar ditembus cahaya. Bila selulosa berikatan dengan partikel lemak, pori-pori tersebut akan meregang sehingga kertas menjadi lebih mudah ditembus cahaya dan tampak transparan.





Percobaan V : Menunjukkan Kristal Kolesterol


A.      Fungsi Reagen
1.       Alkohol
Digunakan untuk melarutkan kolesterol sehingga mudah untuk diamati di bawah mikroskop.


 



                                      
B.      Korelasi Klinis
Kolesterol merupakan lipid amfipatik yang berperan sebagai komponen memran sel yang penting. Selain itu kolesterol juga merupakan senyawa induk bagi sitesis berbagai steroid dalam tubuh seperti hormon korteks adrenal, hormon seks, vitamin D dan asam empedu serta glikosida jantung.


Percobaan VI : Percobaan Salkowski


Steroid adalah gugus senyawa yang mengandung struktur cincin yang terdiri dari cincin fenantren (cincin A, B, dan C) serta cincin siklopentana (cincin D). kolesterol merupakan senyawa induk yang merupakan asal dari semua steroid yang dihasilkan di dalam tubuh manusia.

A.      Fungsi Reagen
1.       Kolesterol
   Berfungsi sebagai sumber sterol jenuh
2.       Kloroform
Berfungsi sebagai pelarut kolesterol agar lebih mudah bereaksi
3.       H2SO4
        Berfungsi sebagai oksidator

Dalam percobaan ini, akan terbentuk 3 lapisan dalam tabung reaksi, dari permukaan bawah :
1.       warna merah kebiruan sampai merah cerah dan ungu (purple), merupakan hasil dari reaksi antara kloroform dan kolesterol yang berupa kolestadiena.
2.       fluoresensi hijau, merupakan hasil reaksi antara kolestadiena dan asam sulfat yang berupa asam sulfonat.
3.       kuning, merupakan sisa asam sulfat yang tidak ikut bereaksi.

B.      Korelasi Klinis
Sterol adalah senyawa yang mempunyai lebih dari satu gugus hidroksil dan tidak memiliki gugus karbonil maupun karboksil. Fungsinya dalam tubuh sama dengan fungsi steroid di dalam tubuh manusia.







Percobaan VII : Kelarutan Cu(OH)2

Fungsi Reagen
1.       Cu(OH)2
Dibentuk dari CuSO4 + NaOH. Cu(OH)2 yang terbentuk tidak larut dalam air (berupa endapan).
2.       Gliserol
Untuk melarutkan kembali Cu(OH)2 yang terbentuk.

Korelasi Klinis Secara Umum

     Makna klinikopatologis dari pengukuran lipida , baik total maupun fraksi fraksinya masih kontroversial. Kalau mempelajari hubungan antara kadar tinggi kolesterol total dan penyakit kardiovaskular atherosklerosis atas dasar penyebaran geografis, jelas ada korelasi positif, tetapi untuk menyatakan hal yang sam terhadap satu individu tetap sukar. Usaha untuk membuktikan bahwa menurunkan lemak dalam makanan atau kadar lipida dalam darah dapat menurunkan resiko atau beratnya atherosklerosis masih kontroversial.  Belum juga jelas apa sebabnya kadar tinggi kolesterol- HDL mempunyai korelasi negatif dengan penyakit kardiovaskular. Yang jelas, Kolesterol-LDL tinggi dan koesterol-HDL yang rendah merupakan faktor resiko untuk penyakit atherosklerosis dan di lain pihak kolesterol-HDL tinggi dan kolesterol-LDL rendah meramalkan kurangnya resiko penyakit kardiovaskular. 

Rabu, 27 November 2013

Singkatan Latin dalam Resep

Penggunaan singkatan bahasa Latin dalam praktik medis memiliki sejarah yang sangat panjang, bisa dirunut hingga ke tahun 1400-an saat bahasa Latin menjadi bahasa utama di Eropa Barat. Saat ini, penggunaan singkatan bahasa Latin terbatas pada petunjuk pengambilan atau penggunaan obat dalam resep.
Berikut adalah beberapa singkatan yang paling umum digunakan:

a.c. : ante coenam : sebelum      makan
a.d / AD  : aurio dexter : telinga kanan
a.l. : aurio laeva : telinga kiri
a.s. / AS : auris sinister : telinga kiri
a.u. / AU : auris utro : kedua telinga
aa : anna : takaran obat dibawah sama dengan yang diatasnya   
ad : ad : hingga : sampaiad : ad : hingga : sampai
ad. Lib. : ad libitum : digunakan sesuai keinginan (bebas)
alt. die. : alternus die : setiap lain hari
alt. h. : alternus hora : setiap lain jam
amp. : ampule : 1 dosis unit 
aq : aqua : air

b.d. : bis die  : 2x sehari
b.i.d. : bis in die : 2x sehari
b.i.n. : bis in noctus : 2x semalam
bis : bis : dua kali
bol. : bolus : sebanyak dosis tunggal

cap : capsula : kapsul
cc : cum cibos : dengan makanan
cc : cubic centimetres : sentimeter kubik
comp. : comsitus : diloleskan

D : dies : hari
d.t.d : da tales doses : takaran tertera dalam resep dibagi sejumlah bagian sesuai numero
dieb. alt. : diebus alternis : setiap lain hari
div. : divide : dibagi

emp. : ex modo prescripto : sesuai petunjuk
emul. : emulsio : emulsi
eq. pts. : equalis partis : bagian yang sama
ex aq : ex aqua : dalam air

fl. / fld. : fluida : cairan

g : gram : gram
grad. : gradatim : berangsur-angsur
gtt. : gutta : diteteskan
h. / hr. : hora : jam
h.s. : hora somni : waktu tidur

I.D. : intra dermal : disuntikkan di bawah kulit
I.M. : intra muscularly : disuntikkan ke dalam otot
I.P : intraperitonial : itu injeksi yang disuntikkan melalui otot rongga perut
I.V. : intravena : injeksi untuk pembuluh balik
inj. : injectio : suntikan
in p. aeq. : dividiatur in partes aequales : dibagi menjadi bagian yg sama

lin : linimentum : digosok
liq : liquor : solution
lot. : lotio : itu obat berbentuk cairan untuk digunakan ke kulit / tidak diminum

m, min. : minimum : minimal
M. : Misce : campur
mane : mane : pagi hari
mcg : microgram :mikro gram
mEq : milli equivalent : mili ekuivalen
mg : milligram : mili gram
mist. : mistura : campur
mixt. : mixtura : campuran
ml : millilitter : mili liter

nebul : nebula : semprotan
no. : numero : nomor
nocte : nocte : malam
noct. maneq. : noct maneque : pagi dan malam hari
non rep. : non repetatur : tidak dapat diulang
npo : nill per os : tidak ada yg melalui mulut

o.d / OD : oculus dexter : mata kanan
o.l. : oculus laeva : mata kiri
o.m. : omni mane : pada pagi hari
o.n. : omni nocte : pada malam hari
o.s / OS : oculus sinister : mata kiri
o.u / OU : oculo utro : setiap mata
opth : opthalmic : pada mata
os : ossa : tulang
otic : otical : pada telinga
 
p.c. : post coenam : setelah makan
p.o. : per os : melalui mulut
p.p.a. : phiala prius agitata : dikocok dahulu
p.r : pro rectum : melalui anus
p.r.n. : pro re nata : sesuai kebutuhan
p.v. : per vaginum : melalui kelamin wanita
per : per : melalui
pil : pilula : pil
pulv. : pulvis : bubuk/serbuk

q : quaque : setiap
q._h : quaque …. hora : setiap …. jam
q.3h : quaque 3 hora : setiap 3 jam
q.a.d : quaque alternis die : setiap hari yang berbeda
q.d. / QD : quaque die : setiap hari
q.h.s : quaque hora somni : setiap menjelang tidur
q.i.d. : quarter in die : 4x sehari
q.o.d. / QOD : quaque os die : setiap hari yang berbeda
qq. hh. : quaque hora : setiap jam
q.q.h. : quarter quaque hora : setiap 4 jam
q.s. : quantum sufficiat : gunakan secukupnya
qAM : quaque ante meridiem :setiap pagi
ql : quantum libet :sebanyak yang diinginkan
q.p. : quantum placeat : sebanyak yang dianjurkan
qPM : quaque post meridiem : setiap sore
qv : quantum vis : sebanyak

R/ : recipe : ambil
rep. , rept. : repetatur : dapat diulang
Rx : radix : resep

s : sine : tanpa
s.a. : secundum artum : gunakan sesuai pertimbangan
s.i.d : semel in die : sekali sehari
s.o.s. : si opus sit : segera jika dibutuhkan
SC, subc, subq,subcut : sub cutem : disuntikkan di bawah kulit
Sig. / S : signa, signetur : tandai
SL : sub lingualy : di bawah lidah
sol. :solutio : larutan
ss. : semis : setengah / separuh
stat. : statim : segera
supp. : suppositoria : obat yang dimasukkan melalui anus
susp. : suspensio : suspensi (zat / obat padat yang didispersikan ke dalam zat cair)
syr. : syrupus : sirup

t.d.s : ter die sumendum : 3x sehari
t.i.d. : ter in die : 3x sehari
t.i.w. : ter in w : 3x seminggu
tab. : tabella : tablet
tal. : talus : seperti
tbsp. : tablespoon : sendok makan (15 ml)
tr, tinc., tinct. : tincture : larutan dlm alkohol
troche : trochiscus : obat batuk
tsp. : teaspoon : sendok teh (5 ml)

u.d. / ut dict. : ut dictum : sesuai petunjuk
ung. : unguentum : obat salep

vag. : vaginum : alat kelamin wanita

Minggu, 24 November 2013

Obati Patah Hati dengan Parasetamol

Artikel ini cukup menarik bagi saya yang seorang calon farmasis, artikel ini saya ambil dari Ghiboo.com
selamat membaca.


Rasa patah hati yang dialami seseorang memang tak mudah untuk menghilangkannya. Namun, penelitian terbaru menunjukkan dosis kecil parasetamol bisa membantu meringankan rasa sakit hati karena patah hati.

Penelitian dilakukan selama tiga minggu di University of California terhadap 62 orang. Semua partisipan merupakan orang yang sedang sakit hati. Kemudian, partisipan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk minum sejenis obat paracetamol merek Tylenol. Sedangkan kelompok lain, hanya diberikan plasebo sebagai kelompok kontrol.

Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang menelan dua tablet paracetamol (1.000 miligram) per hari dilaporkan mengalami penurunan sakit yang signifikan dibandingkan mereka yang hanya menelan plasebo.

Penelitian yang dilakukan oleh tim ahli saraf menjelaskan bahwa obat pereda sakit atau nyeri ini langsung membidik di area otak yang sama  yang memproses luka emosional, yaitu anterior cingulate cortex. Sehingga, perasaan sakit hati, seperti kehilangan orang terkasih, bisa merespons obat penghilang rasa sakit atau nyeri.

Dr Naomi Eisenberger, asisten profesor psikologi sosial, berharap temuan itu dapat membantu mengembangkan pengobatan rasa sakit hati. Namun Eisenberger tidak menyarankan untuk menggunakan painkiller pasca kejadian traumatis. Perlu diingatkan bahwa menggunakan parasetamol harus dibawah pengawasan dokter dengan dosis yang tepat.

Senin, 18 November 2013

Macam-macam Bentuk Sediaan Obat dan Penggunaannya

Berikut macam macam sedian obat berdasarkan dari dFarmakope Inndonesia Edisi IV, macam macam sedian umum tersebut sebagai berikut :

1.   Aerosol
Sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapeutik yang dilepas pada saat system katup yang sesuai di tekan. Sedian ini digunakan untuk pemakaian topical pada kulit dan juga untuk pemakaian lokal pada hidung.

2.   Kapsul
Sediaan padat yang tediri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut.

3.   Tablet
Sedian padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
4.   Krim
Sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.

5.   Emulsi
Sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.


6.   Ekstrak
Sediaan pekat yang di peroleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simpliisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua atau hamper semua pelarut di uapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat yang ditetapkan.

7.   Gel (geli)
Sistem semi padat terdiri dari suspense yang di buat partikel anorganik yang kecil ayau molekul organic yang besar, terpenetrsai oleh suatu cairan.

8.   Imunoserum
Adalah sediaan yang mengandung immunoglobulin khas yang di perlukan dari serum hewan dengan pemurnian.

9.   Implan atau Pelet
Sedian dengan massa padat berukuran kecil, berisi obat dengan kemurnian tinggi (dengan atau tanpa eksipien), dibuat dengan cara pengempaan atau pencetakan.

10. Infusa
Sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90’ selama 15 menit.
11. Inhalasi
Sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri dari satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau mulut untuk memperoleh efek local atau sistemik.

 12. Injeksi
Sediaan steril untuk kegunaan parenteral, yaitu dibawah atau menembus kulit atau selaput lender.






13. Irigasi
Larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau ronggga rongga tubuh, penggunaan adalah secara topical.

14. Lozenges atau tablet hisap
Sediian padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut.

15. Sediaan Obat mata
·         Salep mata
Salep steril yang digunakan pada mata.
·         Larutan Obat mata
Larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedimikian rupa hingga sesuai di gunakan untuk mata.

16. Pasta
Sediaan semi padata yang mengandung satu atau lebih bahan yang di tujukan untuk pemakaiaan topical.

17. Plester
Bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat melekat pada kulit dan menempel pada pembalut.

18. Serbuk
Campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, berupa serbuk yang dibagi bagi (pulveres) atau serbuk yang tak terbagi. (pulvis).












19. Suppositoria
Sediaan padat dalam bergabai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rectal, vagina atau eretra, umunya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
 


         Sifat yang keras dan takaran yang rendah dari kebanyakan obat-obatan yang digunakan saat ini mempersulit masyarakat umum untuk dapat memperoleh takaran yang tepat dan aman dari bahan baku yang berkhasiat. Sebagian besar obat yang digunakan dalam takaran miligram sehingga sangat sedikit untuk ditimbang dengan timbangan biasa, kecuali dengan timbangan laboratorium yang peka. Sebagai contoh, Glibenclamide sebagai obat penyakit kencing manis, hanya membutuhkan kurang lebih 5 mg untuk takaran sekali minum. Dengan digunakannya timbangan laboratorium yang peka maka akan menghindarkan dosis yang tidak tepat (bahaya racun obat dapat diminimalkan).
    Apabila takaran obat (misalnya sediaan tablet) terlalu kecil, maka harus dibuat dengan bahan pengisi atau pengencer sehingga ukuran dari 1 unit takaran cukup besar untuk diambil dengan ujung jari, sehingga menghasilkan obat yang mudah dipakai.
     Disamping usaha untuk mendapatkan obat yang manjur, tidak beracun dan mudah dipakai, bentuk sediaan membutuhkan hal-hal lain sebagai berikut:
1.   Untuk melindungi zat obat dari pengaruh yang merusak seperti oksigen dan kelembaban (misalnya tablet salut dan ampul tertutup rapat).
2.   Untuk melindungi zat obat terhadap pengaruh yang merusak seperti asam lambung sesudah pemberian oral (misalnya tablet salut enterik).
3.   Menutupi rasa pahit, asin, atau bau tak enak dari zat obat (misalnya kapsul, tablet bersalut, sirup-sirup yang diberi pengenak rasa).
4.   Menyediakan sediaan cair dari zat yang tidak larut atau tidak stabil dalam pembawa yang diinginkan (misalnya suspensi).
5.   Menyediakan sediaan cair yang larut dalam pembawa yang diinginkan (misalnya larutan).
6.   Menyediakan obat dengan kerja yang luas, dengan cara mengatur pelepasan obat (misalnya tablet dan kapsul dengan pelepasan obat diatur).
7.   Mendapatkan kerja yang optimum pada tempat pemberian secara topikal (misalnya salep, krim, plester, obat mata, obat telinga dan obat hidung).
8.   Memberikan penempatan obat ke dalam salah satu lubang tubuh (misalnya suppositoria melalui anus dan ovula melalui vagina).
9.   Memberikan penempatan obat secara langsung ke aliran darah atau jaringan tubuh (misalnya injeksi).
10.         Memberikan kerja obat yang optimum melalui pengobatan inhalasi (misalnya aerosol).