Penggunaan singkatan bahasa Latin dalam praktik medis memiliki
sejarah yang sangat panjang, bisa dirunut hingga ke tahun 1400-an saat
bahasa Latin menjadi bahasa utama di Eropa Barat. Saat ini, penggunaan
singkatan bahasa Latin terbatas pada petunjuk pengambilan atau
penggunaan obat dalam resep.
Berikut adalah beberapa singkatan yang paling umum digunakan:
a.c. : ante coenam : sebelum makan
a.d / AD : aurio dexter : telinga kanan
a.l. : aurio laeva : telinga kiri
a.s. / AS : auris sinister : telinga kiri
a.u. / AU : auris utro : kedua telinga
aa : anna : takaran obat dibawah sama dengan yang diatasnya
ad : ad : hingga : sampaiad : ad : hingga : sampai
ad. Lib. : ad libitum : digunakan sesuai keinginan (bebas)
alt. die. : alternus die : setiap lain hari
alt. h. : alternus hora : setiap lain jam
amp. : ampule : 1 dosis unit
aq : aqua : air
b.d. : bis die : 2x sehari
b.i.d. : bis in die : 2x sehari
b.i.n. : bis in noctus : 2x semalam
bis : bis : dua kali
bol. : bolus : sebanyak dosis tunggal
cap : capsula : kapsul
cc : cum cibos : dengan makanan
cc : cubic centimetres : sentimeter kubik
comp. : comsitus : diloleskan
D : dies : hari
d.t.d : da tales doses : takaran tertera dalam resep dibagi sejumlah bagian sesuai numero
dieb. alt. : diebus alternis : setiap lain hari
div. : divide : dibagi
emp. : ex modo prescripto : sesuai petunjuk
emul. : emulsio : emulsi
eq. pts. : equalis partis : bagian yang sama
ex aq : ex aqua : dalam air
fl. / fld. : fluida : cairan
g : gram : gram
grad. : gradatim : berangsur-angsur
gtt. : gutta : diteteskan
h. / hr. : hora : jam
h.s. : hora somni : waktu tidur
I.D. : intra dermal : disuntikkan di bawah kulit
I.M. : intra muscularly : disuntikkan ke dalam otot
I.P : intraperitonial : itu injeksi yang disuntikkan melalui otot rongga perut
I.V. : intravena : injeksi untuk pembuluh balik
inj. : injectio : suntikan
in p. aeq. : dividiatur in partes aequales : dibagi menjadi bagian yg sama
lin : linimentum : digosok
liq : liquor : solution
lot. : lotio : itu obat berbentuk cairan untuk digunakan ke kulit / tidak diminum
m, min. : minimum : minimal
M. : Misce : campur
mane : mane : pagi hari
mcg : microgram :mikro gram
mEq : milli equivalent : mili ekuivalen
mg : milligram : mili gram
mist. : mistura : campur
mixt. : mixtura : campuran
ml : millilitter : mili liter
nebul : nebula : semprotan
no. : numero : nomor
nocte : nocte : malam
noct. maneq. : noct maneque : pagi dan malam hari
non rep. : non repetatur : tidak dapat diulang
npo : nill per os : tidak ada yg melalui mulut
o.d / OD : oculus dexter : mata kanan
o.l. : oculus laeva : mata kiri
o.m. : omni mane : pada pagi hari
o.n. : omni nocte : pada malam hari
o.s / OS : oculus sinister : mata kiri
o.u / OU : oculo utro : setiap mata
opth : opthalmic : pada mata
os : ossa : tulang
otic : otical : pada telinga
p.c. : post coenam : setelah makan
p.o. : per os : melalui mulut
p.p.a. : phiala prius agitata : dikocok dahulu
p.r : pro rectum : melalui anus
p.r.n. : pro re nata : sesuai kebutuhan
p.v. : per vaginum : melalui kelamin wanita
per : per : melalui
pil : pilula : pil
pulv. : pulvis : bubuk/serbuk
q : quaque : setiap
q._h : quaque …. hora : setiap …. jam
q.3h : quaque 3 hora : setiap 3 jam
q.a.d : quaque alternis die : setiap hari yang berbeda
q.d. / QD : quaque die : setiap hari
q.h.s : quaque hora somni : setiap menjelang tidur
q.i.d. : quarter in die : 4x sehari
q.o.d. / QOD : quaque os die : setiap hari yang berbeda
qq. hh. : quaque hora : setiap jam
q.q.h. : quarter quaque hora : setiap 4 jam
q.s. : quantum sufficiat : gunakan secukupnya
qAM : quaque ante meridiem :setiap pagi
ql : quantum libet :sebanyak yang diinginkan
q.p. : quantum placeat : sebanyak yang dianjurkan
qPM : quaque post meridiem : setiap sore
qv : quantum vis : sebanyak
R/ : recipe : ambil
rep. , rept. : repetatur : dapat diulang
Rx : radix : resep
s : sine : tanpa
s.a. : secundum artum : gunakan sesuai pertimbangan
s.i.d : semel in die : sekali sehari
s.o.s. : si opus sit : segera jika dibutuhkan
SC, subc, subq,subcut : sub cutem : disuntikkan di bawah kulit
Sig. / S : signa, signetur : tandai
SL : sub lingualy : di bawah lidah
sol. :solutio : larutan
ss. : semis : setengah / separuh
stat. : statim : segera
supp. : suppositoria : obat yang dimasukkan melalui anus
susp. : suspensio : suspensi (zat / obat padat yang didispersikan ke dalam zat cair)
syr. : syrupus : sirup
t.d.s : ter die sumendum : 3x sehari
t.i.d. : ter in die : 3x sehari
t.i.w. : ter in w : 3x seminggu
tab. : tabella : tablet
tal. : talus : seperti
tbsp. : tablespoon : sendok makan (15 ml)
tr, tinc., tinct. : tincture : larutan dlm alkohol
troche : trochiscus : obat batuk
tsp. : teaspoon : sendok teh (5 ml)
u.d. / ut dict. : ut dictum : sesuai petunjuk
ung. : unguentum : obat salep
vag. : vaginum : alat kelamin wanita
Rabu, 27 November 2013
Minggu, 24 November 2013
Obati Patah Hati dengan Parasetamol
Artikel ini cukup menarik bagi saya yang seorang calon farmasis, artikel ini saya ambil dari Ghiboo.com
selamat membaca.
Rasa patah hati yang dialami seseorang memang tak mudah untuk menghilangkannya. Namun, penelitian terbaru menunjukkan dosis kecil parasetamol bisa membantu meringankan rasa sakit hati karena patah hati.
Penelitian dilakukan selama tiga minggu di University of California terhadap 62 orang. Semua partisipan merupakan orang yang sedang sakit hati. Kemudian, partisipan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk minum sejenis obat paracetamol merek Tylenol. Sedangkan kelompok lain, hanya diberikan plasebo sebagai kelompok kontrol.
Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang menelan dua tablet paracetamol (1.000 miligram) per hari dilaporkan mengalami penurunan sakit yang signifikan dibandingkan mereka yang hanya menelan plasebo.
Penelitian yang dilakukan oleh tim ahli saraf menjelaskan bahwa obat pereda sakit atau nyeri ini langsung membidik di area otak yang sama yang memproses luka emosional, yaitu anterior cingulate cortex. Sehingga, perasaan sakit hati, seperti kehilangan orang terkasih, bisa merespons obat penghilang rasa sakit atau nyeri.
Dr Naomi Eisenberger, asisten profesor psikologi sosial, berharap temuan itu dapat membantu mengembangkan pengobatan rasa sakit hati. Namun Eisenberger tidak menyarankan untuk menggunakan painkiller pasca kejadian traumatis. Perlu diingatkan bahwa menggunakan parasetamol harus dibawah pengawasan dokter dengan dosis yang tepat.
selamat membaca.
Rasa patah hati yang dialami seseorang memang tak mudah untuk menghilangkannya. Namun, penelitian terbaru menunjukkan dosis kecil parasetamol bisa membantu meringankan rasa sakit hati karena patah hati.
Penelitian dilakukan selama tiga minggu di University of California terhadap 62 orang. Semua partisipan merupakan orang yang sedang sakit hati. Kemudian, partisipan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk minum sejenis obat paracetamol merek Tylenol. Sedangkan kelompok lain, hanya diberikan plasebo sebagai kelompok kontrol.
Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang menelan dua tablet paracetamol (1.000 miligram) per hari dilaporkan mengalami penurunan sakit yang signifikan dibandingkan mereka yang hanya menelan plasebo.
Penelitian yang dilakukan oleh tim ahli saraf menjelaskan bahwa obat pereda sakit atau nyeri ini langsung membidik di area otak yang sama yang memproses luka emosional, yaitu anterior cingulate cortex. Sehingga, perasaan sakit hati, seperti kehilangan orang terkasih, bisa merespons obat penghilang rasa sakit atau nyeri.
Dr Naomi Eisenberger, asisten profesor psikologi sosial, berharap temuan itu dapat membantu mengembangkan pengobatan rasa sakit hati. Namun Eisenberger tidak menyarankan untuk menggunakan painkiller pasca kejadian traumatis. Perlu diingatkan bahwa menggunakan parasetamol harus dibawah pengawasan dokter dengan dosis yang tepat.
Senin, 18 November 2013
Macam-macam Bentuk Sediaan Obat dan Penggunaannya
Berikut
macam macam sedian obat berdasarkan dari dFarmakope Inndonesia Edisi
IV, macam macam sedian umum tersebut sebagai berikut :
1. Aerosol
Sediaan
yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif terapeutik yang
dilepas pada saat system katup yang sesuai di tekan. Sedian ini
digunakan untuk pemakaian topical pada kulit dan juga untuk pemakaian
lokal pada hidung.
2. Kapsul
Sediaan padat yang tediri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut.
3. Tablet
Sedian padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
4. Krim
Sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
5. Emulsi
Sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.
6. Ekstrak
Sediaan
pekat yang di peroleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simpliisia
nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai kemudian
semua atau hamper semua pelarut di uapkan dan massa atau serbuk yang
tersisa diperlukan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat yang
ditetapkan.
7. Gel (geli)
Sistem
semi padat terdiri dari suspense yang di buat partikel anorganik yang
kecil ayau molekul organic yang besar, terpenetrsai oleh suatu cairan.
8. Imunoserum
Adalah sediaan yang mengandung immunoglobulin khas yang di perlukan dari serum hewan dengan pemurnian.
9. Implan atau Pelet
Sedian
dengan massa padat berukuran kecil, berisi obat dengan kemurnian tinggi
(dengan atau tanpa eksipien), dibuat dengan cara pengempaan atau
pencetakan.
10. Infusa
Sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90’ selama 15 menit.
11. Inhalasi
Sediaan
obat atau larutan atau suspensi terdiri dari satu atau lebih bahan obat
yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau mulut untuk memperoleh
efek local atau sistemik.
12. Injeksi
13. Irigasi
Larutan
steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau
ronggga rongga tubuh, penggunaan adalah secara topical.
14. Lozenges atau tablet hisap
Sediian
padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan
dasar beraroma manis, yang dapat membuat tablet melarut atau hancur
perlahan dalam mulut.
15. Sediaan Obat mata
· Salep mata
Salep steril yang digunakan pada mata.
· Larutan Obat mata
Larutan
steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas
sedimikian rupa hingga sesuai di gunakan untuk mata.
16. Pasta
Sediaan semi padata yang mengandung satu atau lebih bahan yang di tujukan untuk pemakaiaan topical.
17. Plester
Bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat melekat pada kulit dan menempel pada pembalut.
18. Serbuk
Campuran
kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, berupa serbuk yang
dibagi bagi (pulveres) atau serbuk yang tak terbagi. (pulvis).
19. Suppositoria
Sediaan
padat dalam bergabai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rectal,
vagina atau eretra, umunya meleleh, melunak atau melarut pada suhu
tubuh.
Sifat
yang keras dan takaran yang rendah dari kebanyakan obat-obatan yang
digunakan saat ini mempersulit masyarakat umum untuk dapat memperoleh
takaran yang tepat dan aman dari bahan baku
yang berkhasiat. Sebagian besar obat yang digunakan dalam takaran
miligram sehingga sangat sedikit untuk ditimbang dengan timbangan biasa,
kecuali dengan timbangan laboratorium yang peka. Sebagai contoh,
Glibenclamide sebagai obat penyakit kencing manis, hanya membutuhkan
kurang lebih 5 mg untuk takaran sekali minum. Dengan digunakannya
timbangan laboratorium yang peka maka akan menghindarkan dosis yang
tidak tepat (bahaya racun obat dapat diminimalkan).
Apabila
takaran obat (misalnya sediaan tablet) terlalu kecil, maka harus dibuat
dengan bahan pengisi atau pengencer sehingga ukuran dari 1 unit takaran
cukup besar untuk diambil dengan ujung jari, sehingga menghasilkan obat
yang mudah dipakai.
Disamping
usaha untuk mendapatkan obat yang manjur, tidak beracun dan mudah
dipakai, bentuk sediaan membutuhkan hal-hal lain sebagai berikut:
1. Untuk
melindungi zat obat dari pengaruh yang merusak seperti oksigen dan
kelembaban (misalnya tablet salut dan ampul tertutup rapat).
2. Untuk
melindungi zat obat terhadap pengaruh yang merusak seperti asam lambung
sesudah pemberian oral (misalnya tablet salut enterik).
3. Menutupi
rasa pahit, asin, atau bau tak enak dari zat obat (misalnya kapsul,
tablet bersalut, sirup-sirup yang diberi pengenak rasa).
4. Menyediakan sediaan cair dari zat yang tidak larut atau tidak stabil dalam pembawa yang diinginkan (misalnya suspensi).
5. Menyediakan sediaan cair yang larut dalam pembawa yang diinginkan (misalnya larutan).
6. Menyediakan
obat dengan kerja yang luas, dengan cara mengatur pelepasan obat
(misalnya tablet dan kapsul dengan pelepasan obat diatur).
7. Mendapatkan
kerja yang optimum pada tempat pemberian secara topikal (misalnya
salep, krim, plester, obat mata, obat telinga dan obat hidung).
8. Memberikan penempatan obat ke dalam salah satu lubang tubuh (misalnya suppositoria melalui anus dan ovula melalui vagina).
9. Memberikan penempatan obat secara langsung ke aliran darah atau jaringan tubuh (misalnya injeksi).
10. Memberikan kerja obat yang optimum melalui pengobatan inhalasi (misalnya aerosol).
Langganan:
Postingan (Atom)